TI swim blog series: seeing when breathing
  • Aidy

TI swim blog series: seeing when breathing



Blog ini tersedia dalam bahasa Indonesia dan Inggris dan tulisan ini diadaptasi dari tulisan Terry Laughlin pada tanggal 12 April 2011.


Selagi maraknya virus korona (COVID-19), saya mengambil kesempatan untuk banyak latihan berenang, Menurut pernyataan Dr Leong Hoe Nam. Berenang adalah kegiatan olahraga yang aman di tengah beredarnya virus corona. Hal ini disebabkan karena kolam yang mengandung chlorine diketahui dapat membunuh virus corona.


Sebagai official TI coach di Indonesia saya sedang menekuni teknik bernafas. Saya ingin sedikit membedah teknik bernafas ketika berenang gaya bebas karena banyaknya murid saya yang datang ke Balitri Home Studio mengaku bahwa kesulitan mereka dalam berenang adalah bernafas.


Dalam seri ini saya ingin berbagi satu kunci untuk meningkatkan keterampilan pernapasan teman-teman swimmer: bukalah mata, lihatlah yang dekat, bukan yang jauh.


Sedikit perenang yang benar-benar menggunakan jarak pandang yang dekat dan memperhatikan apa yang dilihat ketika bernafas. Padahal membuka mata dan memperhatikan apa yang dilihat dapat mengubah segalanya.


John berbagi penemuan menarik tentang bernapas di Forum Diskusi TI:


Saya agak enggan mengakui bahwa saya perlu waktu satu tahun untuk memahami hal ini, tapi mungkin itu akan membantu orang lain. Saya selalu berjuang untuk menemukan posisi kepala yang tepat untuk bernafas. Kadang-kadang saya merasa saya perlu menenggelamkan kepala saya untuk merasa seimbang, tetapi dalam posisi itu saya merasa tidak bisa mendapatkan udara. Saya memiliki momen ‘aha 'minggu lalu, ketika saya akhirnya menyadari bahwa saya menutup mata saya saat bernafas. Saya mulai secara sadar menjaga mata saya terfokus melalui nafas dan itu telah membuat perbedaan dunia. Sekarang saya bisa melihat dengan tepat seberapa jauh harus berputar, kapan harus menarik napas dan kapan harus berhenti. Dengan mata terpejam, saya akan memalingkan kepala terlalu jauh, kehilangan keseimbangan dan kemudian perlu pulih.


Sekarang, ketika saya memutar kepala saya untuk mengambil nafas, saya melihat permukaan air, saya perhatikan satu kacamata saya tertutup air dan satu lagi melihat dengan jernih riak permukaan air yang tertabrak oleh kepala saya. Dalam posisi ini, saya tetap dapat menghirup udara dan saya mulai menutup mulut saya tepat ketika seluruh mulut masuk ke dalam air. Tiba-tiba saya merasa seolah-olah saya memiliki lebih banyak waktu untuk bernapas dan saya tetap lebih selaras dan seimbang dan posisi leher saya tetap relax dan posisi kepala saya tidak timbul tenggelam. Berbeda dengan bila mata saya terpejam, saya tidak tahu apa yang saya lewatkan. Sayang sekali saya butuh satu tahun untuk mendapatkan hal ini. Doh!


John, selamat, atas aha moment yang tak ternilai. Kamu mendapatkan aha moment ini 30 tahun lebih cepat daripada saya! Saya dapat mengingat dengan tepat hari ketika saya memiliki penemuan yang sama. Saya sedang berenang di Danau Minnewaska pada akhir pekan di tahun 2003. Saya ditemani oleh Dave Barra ketika itu.


Setelah kami berenang sekitar 10 menit, saya mulai mencari pengalih perhatian, saya mulai benar-benar memperhatikan dengan mata saya ketika saya berputar untuk bernafas. Pertama-tama saya perhatikan bahwa bagian bawah permukaannya berlesung karena ditabrak oleh kepala saya. Lalu saya juga memperhatikan bahwa mulut saya memecahkan permukaan air. Seperti kamu, saya segera menyadari bahwa ini membantu saya mempertajam pengaturan waktu napas dan melakukan sedikit penyesuaian pada posisi kepala. Sejak itu, saya selalu memperhatikan apa yang saya lihat dalam jarak pandang saya yang dekat ketika bernapas.


Jadilah pengamat, ini akan memberikan kemajuan yang luar biasa pada teknik bernafas kamu. Memberi perhatian akan membuat kita memperhatikan hal-hal yang biasanya luput dari perhatian kita. Ini relatif jarang terjadi di kalangan perenang. Ini lumrah terjadi pada orang-orang yang melakukan hal berulang-ulang dan juga terjadi ketika latihan mulai membosankan atau tidak memiliki tujuan yang jelas.


Jadilah Pengamat dalam proses berenangmu dan ini akan membuat renang anda menjadi lebih berarti dan bertujuan.


Pernahkah kamu memperhatikan dirimu dengan menutup mata ketika mencoba untuk meningkatkan fokus, biasanya pada aspek teknik yang halus atau sulit dipahami?


Setelah saya mulai berenang lebih hati-hati, saya perhatikan bahwa pada saat-saat fokus yang sangat tajam, saya secara naluriah akan menutup mata saya. Sudah diketahui umum bahwa orang yang kehilangan penglihatan menjadi jauh lebih terbiasa dengan suara dan perasaan. Bagi kita semua, menghilangkan input visual memiliki efek membuat perasaanmu jauh lebih tajam. Dalam air - yang secara harfiah adalah lautan sensasi - segala sesuatu yang menajamkan kesadaran kinestetik sangat berharga. Kamu dapat bereksperimen dengan periode berenang singkat dengan mata tertutup (ketika aman melakukannya) untuk meningkatkan sensitivitas Anda terhadap input sensorik dan meningkatkan kesadaran Anda tentang seluk-beluk dalam stroke Anda, termasuk bagaimana Anda bernapas.


Dalam posting sebelumnya tentang pernapasan, saya juga menulis bahwa banyak orang merasa lebih mudah untuk bernapas ketika mereka menyadari bahwa mereka dapat menghirup dan menghembuskan udara yang cukup, dan tidak perlu mengisi atau mengosongkan paru-paru mereka. Intinya adalah benar-benar memperhatikan hal-hal yang mungkin Anda abaikan sebelumnya.


Balitri Home Studio memiliki kolam dengan cermin di dinding kanan dan kiri untuk dapat mengalihkan perhatian. Fitur ini sangat bermanfaat untuk mengkoreksi posisi kepala kita ketika bernafas.


------------------------------------------------------------------------------------------------------------


This blog is available in Indonesian (above) and English and this article was adapted from the writings of Terry Laughlin on April 12, 2011.


While the corona virus (COVID-19) is rife, I take the opportunity to practice swimming. According to Dr Leong Hoe Nam's statement, swimming is a safe sport activity in the midst of the circulation of the corona virus. This is because the pool containing chlorine is known to kill the corona virus.


As the only official TI coach in Indonesia, I want to dissect a little breathing technique when swimming freestyle because many of my students who come to Balitri Home Studio claim that difficulty in swimming is breathing.


In this series I want to share a key to improve the breathing skills: open your eyes, look at the close object, not the far one.

Few swimmers really pay attention. Opening – or closing – your eyes can change everything.


John shared an exciting discovery about breathing on the TI Discussion Forum:


I’m a bit reluctant to admit it took me a year to come to this insight, but perhaps it will help others. I’ve always struggled to find the right head position for breathing. Sometimes I feel I need to nearly submerge my head to feel balanced, but in that position I feel I can’t get air. I had an ‘aha’ moment last week, when I finally noticed that I close my eyes while breathing. I began to consciously keep my eyes focused through the breath and it has made a world of difference. Now I can see precisely how far to rotate, when to inhale and when to stop. With my eyes closed, I would turn my head too far, lose balance and then need to recover.


Now, as I rotate toward air, I see the tint of the water change, watch one goggle clear the surface, begin inhaling and close my mouth just as the water closes over it. Suddenly I feel as if I have far more time to breathe and I stay better aligned and balanced. With eyes closed, I didn’t know what I was missing. Too bad it took me a year to figure out. Doh!


John, congratulations, on your invaluable insight – which came over 30 years quicker than it did to me! I can precisely recall the day I had a similar discovery. I was swimming at Lake Minnewaska on Labor Day weekend around 2003. It was chilly – about 54 degrees – and raining steadily. My friend Dave Barra and I were the only two people swimming.


After we’d been swimming about 10 minutes, looking for diversion, I began “scanning” with my eyes as I rotated to breathe. First I noticed that the underside of the surface was dimpled by the rain and found that almost mesmerizing. Then I kept my gaze keen as my eyes and mouth broke the surface. Like you, I immediately realized this helped me sharpen the timing of the breath and make small adjustments to head position. That has stayed with me ever since.


While your insight will be of value to many, I think you also make a larger point — The Value of Being Observant. Paying attention, and consequently noticing things that usually escape your attention is relatively rare among swimmers. This is a result of the common focus on yardage totals, repeat times, intervals, etc. Tuning out to get through it also results when workouts are tedious or lack a clear purpose beyond “getting the yards in.” The fact that it took me 30 years to notice what you noticed after one year is evidence of how pervasive inattention can be.


Be Observant is just another way of saying swim mindfully.


And here’s the flip side to your discovery of the value of keeping your eyes open. Have you ever noticed yourself closing your eyes when trying to intensify your focus, usually on a subtle or elusive aspect of technique?


After I began swimming more mindfully, I noticed that during moments of especially keen focus I would instinctively close my eyes. It’s well known that people who lose their sight become far more attuned to sound and feel. For the rest of us, taking away visual input has the effect of making your sense of feel a lot keener. In water — which is literally a sea of sensation — anything that sharpens kinaesthetic awareness is invaluable. You can experiment with brief periods of swimming with your eyes closed (when it’s safe to do so) to heighten your sensitivity to sensory input and increase your awareness of the subtleties in your stroke, including how you breathe.


In a previous post on breathing, I also wrote that many people have found it much easier to breathe when they realised they could both inhale and exhale just enough air, and didn’t need to either fill or empty their lungs. The point is really to notice things you may have ignored before.


Balitri Home Studio has a pool with mirrors on the right and left walls to be able to distract. This feature is very useful for correcting the position of our heads when breathing.

0 views

LOCATION

Balitri is located in East Bali, specifically at Jalan Pantai Purnama, Sukawati, Gianyar, in between Ubud and Sanur (30 minutes to each direction).

 

Different from West Bali, this location is very chill and restful, far from busy bustling traffic, and perfect as a starting point of cycling. Gianyar is famous as a home to annual Maybank Bali Marathon and Bali Grand Fondo New York (GFNY).

 

Balitri is conveniently located about 10 minutes by car from Bali Marathon starting point and about 20 minutes by car from Bali GFNY starting point.

 

It is a very strategic location to start a ride, either for climbing or for a flat course with options from 20, 40, 80 to 100 km ride (see ‘bike’ page and our signature routes for more details).

 

It takes about 45 minutes from I Gusti Ngurah Rai Airport by car.

Jalan Pantai Purnama

Sukawati, Gianyar, Bali

Email: balitrihomeandstudio@gmail.com

Opening hours: daily, 6am - 6pm

How to get here:

- Airport pick up IDR 300k and drop IDR 250k

(simply contact us to arrange)

- Online taxi options (IDR 300k)

- Local taxi (IDR 300-400k)

CONTACT

© 2019 by Balitri home & studio.